Angka pada Hasil Similarity Turnitin sering kali diperlakukan sebagai ukuran sederhana untuk menentukan apakah sebuah karya ilmiah mengandung plagiarisme. Padahal, similarity score pada dasarnya menunjukkan persentase teks yang memiliki kemiripan dengan sumber dalam basis data Turnitin, bukan keputusan bahwa suatu karya telah melakukan plagiarisme.
Persoalan ini penting karena Hasil Similarity Turnitin dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kemiripan bisa muncul dari kutipan yang sudah mencantumkan sumber, daftar pustaka, judul referensi, istilah teknis, hingga frasa akademik yang memang lazim digunakan dalam bidang tertentu. Karena itu, angka yang tinggi tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai pelanggaran akademik.
Angka Similarity Bukan Putusan Plagiarisme
Secara teknis, Turnitin bekerja dengan mencocokkan teks dalam dokumen dengan materi yang terdapat dalam basis datanya. Hasilnya kemudian ditampilkan dalam Similarity Report, termasuk bagian-bagian yang memiliki kemiripan.
Artinya, Hasil Similarity Turnitin menjawab pertanyaan mengenai “bagian mana yang mirip dengan sumber lain?”, bukan secara otomatis menjawab “apakah penulis melakukan plagiarisme?”
Perbedaan ini cukup mendasar. Turnitin sendiri menegaskan bahwa similarity score bukan penentuan plagiarisme. Penilaian tersebut tetap membutuhkan pemeriksaan terhadap dokumen dan sumber yang teridentifikasi.
Mengapa Hasil Similarity Turnitin Bisa Tinggi?
Hasil Similarity Turnitin dapat meningkat karena kemiripan yang sebenarnya masih wajar dalam penulisan akademik. Misalnya, penulis menggunakan kutipan langsung dengan atribusi yang benar, mencantumkan judul artikel dalam daftar pustaka, atau menggunakan istilah teknis yang memang sulit diganti dengan padanan lain.
Dalam bidang tertentu, sejumlah istilah dan formulasi bahkan merupakan bagian dari bahasa ilmiah yang digunakan secara luas. Yale mencatat bahwa Turnitin dapat menandai istilah teknis atau frasa yang lazim dalam suatu disiplin sebagai kemiripan, meskipun penggunaannya tidak otomatis merupakan plagiarisme.
Di sinilah angka persentase menjadi kurang bermakna jika berdiri sendiri. Hasil Similarity Turnitin 20 persen, misalnya, tidak memiliki arti yang sama dalam setiap dokumen. Angka tersebut harus dilihat dari bagian mana yang terdeteksi, sumber yang menjadi pembanding, serta bagaimana penulis menggunakan materi tersebut.
Tidak Ada Angka Tunggal untuk Menentukan Plagiarisme
Anggapan bahwa ada satu batas persentase yang secara universal menentukan sebuah karya “aman” atau “plagiat” juga perlu dipertanyakan.
Turnitin menyatakan tidak ada satu angka tetap yang dapat digunakan untuk semua tugas atau institusi. Standar dapat berbeda berdasarkan kebijakan institusi, jenis tugas, dan konteks penulisannya.
Penelitian yang diterbitkan di Journal of Korean Medical Science bahkan menunjukkan bahwa sebuah manuskrip dengan 32 persen kemiripan dapat tidak mengandung plagiarisme, setelah setiap kemiripan diperiksa secara lebih mendalam. Penelitian tersebut menekankan bahwa setiap kemiripan perlu diperiksa oleh pihak yang memahami konteks akademik, bukan hanya dinilai berdasarkan angka.
Karena itu, menjadikan Hasil Similarity Turnitin sebagai satu-satunya dasar untuk menilai integritas sebuah karya berisiko menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Kemiripan yang “Seharusnya Sama” Tetap Bisa Terdeteksi
Ada persoalan lain yang sering luput dalam membaca Hasil Similarity Turnitin. Tidak semua kemiripan terjadi karena seseorang menyalin karya orang lain.
Dalam penulisan ilmiah, penulis memang dapat menggunakan istilah, definisi, nama metode, formula, atau frasa tertentu yang secara alami sama dengan penelitian lain. Dua peneliti yang membahas konsep yang sama bahkan bisa menghasilkan kalimat yang mirip tanpa pernah saling menyalin.
Studi terhadap 255 laporan praktikum biologi juga menemukan banyak similarity hits dari Turnitin, tetapi hanya sebagian kecil kecocokan tersebut yang tergolong bermasalah. Peneliti membedakan antara kemiripan, masalah dalam penggunaan sumber, dan plagiarisme.
Hal ini menunjukkan bahwa kemiripan teks dan plagiarisme bukan dua istilah yang dapat dipertukarkan begitu saja.
Justru Skor Rendah Pun Tidak Menjamin Bebas Masalah
Sebaliknya, Hasil Similarity Turnitin yang rendah juga bukan jaminan bahwa sebuah karya sepenuhnya bebas dari persoalan akademik.
Seseorang dapat mengambil gagasan utama dari suatu sumber tanpa menyalin banyak kalimat secara langsung. Dalam kondisi seperti itu, persentase kemiripan mungkin rendah, tetapi persoalan atribusi dan penggunaan ide tetap perlu diperiksa.
Yale juga menekankan bahwa skor rendah atau bahkan 0 persen tidak otomatis berarti tidak ada masalah dalam penggunaan sumber. Turnitin memiliki fungsi untuk membantu menemukan kemiripan teks, tetapi tidak dapat menggantikan penilaian akademik terhadap cara penulis menggunakan, mengembangkan, dan menginterpretasikan sumber.
Yang Perlu Dibaca Bukan Hanya Persentasenya
Karena itu, membaca Hasil Similarity Turnitin seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa persen?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagian mana yang terdeteksi dan mengapa bagian tersebut memiliki kemiripan?”
Jika kemiripan berasal dari kutipan yang sudah diberi sumber, daftar pustaka, atau istilah teknis, konteksnya berbeda dengan paragraf yang memiliki kemiripan substansial tetapi tidak memberikan atribusi kepada sumber asli.
Pada akhirnya, Turnitin lebih tepat ditempatkan sebagai alat pemeriksaan dan indikator awal, bukan hakim yang menentukan ada atau tidaknya plagiarisme. Penilaian tetap membutuhkan pembacaan manusia, pemahaman terhadap disiplin ilmu, serta pemeriksaan terhadap sumber yang ditandai.
Dengan demikian, Hasil Similarity Turnitin tinggi bukan otomatis bukti plagiarisme, sebagaimana skor rendah juga bukan jaminan mutlak bahwa sebuah karya bebas dari masalah. Yang menentukan bukan semata angka pada laporan, melainkan konteks kemiripan, cara sumber digunakan, dan pertanggungjawaban akademik penulis.
Baca juga : Anti Plagiat! Teknik Parafrase Artikel Ilmiah yang Bikin Tulisan Aman dari Turnitin
