AI untuk Skripsi dan Artikel Makin Ramai Dibahas, Dosen Mulai Minta Disclosure ChatGPT
Penggunaan AI untuk skripsi dan AI untuk artikel ilmiah kini menjadi perbincangan hangat di banyak kampus. Sejumlah dosen mulai meminta mahasiswa dan peneliti mencantumkan disclosure atau pernyataan penggunaan ChatGPT dalam naskah yang mereka submit. Tujuannya adalah menjaga transparansi dan integritas akademik di tengah meningkatnya penggunaan AI generatif.
ChatGPT tidak lagi dipakai hanya untuk mencari informasi. Banyak mahasiswa memanfaatkannya untuk menyusun outline, merangkum jurnal, memperbaiki tata bahasa, hingga membuat draft awal tulisan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru: apakah karya yang dibantu AI masih dianggap orisinal?
Penggunaan ChatGPT di Kampus Meningkat
Dalam beberapa bulan terakhir, penggunaan ChatGPT di lingkungan akademik meningkat signifikan. Mahasiswa menggunakan AI untuk membantu proses penulisan skripsi, sedangkan peneliti mulai memakainya untuk penyuntingan dan penyusunan artikel ilmiah. Namun, banyak dosen mengingatkan bahwa AI hanya boleh menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir akademik.
AI untuk Skripsi dan Artikel Boleh, tetapi Ada Batasnya
Secara umum, AI untuk skripsi dan AI untuk artikel masih dapat digunakan untuk membantu editing bahasa, membuat kerangka tulisan, atau menjelaskan konsep tertentu. Yang menjadi masalah adalah ketika AI diminta menulis seluruh isi karya ilmiah tanpa pemahaman dari penulis.
Dosen tetap menilai kemampuan mahasiswa dalam merumuskan masalah, memilih metode penelitian, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Bagian-bagian tersebut tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh AI.
Apakah Penggunaan ChatGPT Termasuk Plagiarisme?
Jawabannya tidak selalu. Penggunaan ChatGPT tidak otomatis dianggap plagiarisme. Risiko muncul ketika penulis menyalin hasil keluaran AI tanpa verifikasi dan tanpa kontribusi pemikiran sendiri.
Dalam publikasi ilmiah, orisinalitas tidak hanya diukur dari angka similarity, tetapi juga dari gagasan, analisis, dan kontribusi ilmiah penulis. Karena itu, karya yang dibantu AI masih dapat dianggap orisinal selama penulis memahami dan bertanggung jawab penuh atas isi naskahnya.
Risiko Menggunakan AI untuk Skripsi dan Artikel
Penggunaan AI untuk skripsi dan AI untuk artikel tanpa pengecekan dapat menimbulkan beberapa risiko, seperti referensi palsu, kutipan tidak akurat, fakta keliru, dan analisis yang tidak sesuai konteks penelitian. Kasus referensi fiktif dari ChatGPT menjadi salah satu masalah yang paling sering ditemukan.
Karena itu, setiap sumber yang dihasilkan AI perlu diperiksa langsung ke jurnal atau sumber asli sebelum digunakan dalam karya ilmiah.
Mengapa Disclosure AI Mulai Diminta?
Disclosure tidak berarti penulis melakukan pelanggaran. Pernyataan tersebut bertujuan memberi informasi kepada dosen, editor, dan reviewer mengenai sejauh mana AI digunakan dalam proses penulisan. Dengan disclosure, proses penilaian menjadi lebih transparan dan penulis tetap terlihat sebagai pihak yang mengendalikan penelitian dan penulisan artikel.
Penggunaan AI untuk skripsi dan AI untuk artikel diperkirakan akan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi generatif. ChatGPT dapat membantu proses penulisan menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi tidak menghilangkan tanggung jawab akademik penulis.
Tren terbaru menunjukkan dosen dan pengelola jurnal mulai meminta disclosure sebagai bentuk transparansi atas penggunaan ChatGPT dalam penulisan ilmiah. Selama AI digunakan secara proporsional, diverifikasi dengan baik, dan tidak menggantikan proses berpikir penulis, karya ilmiah masih dapat dianggap orisinal.
Baca juga : Jangan Tertipu! Ini Cara Mengecek Jurnal Terindeks Scopus Asli atau Palsu
