Open Peer Review vs Double Blind Review: Mana yang Mulai Banyak Dipakai?
Proses peer review menjadi salah satu fondasi utama dalam menjaga kualitas publikasi ilmiah. Melalui mekanisme ini, artikel dievaluasi sebelum diterbitkan sehingga kualitas metodologi, analisis, dan kesimpulannya dapat ditinjau oleh pihak yang kompeten.
Selama bertahun-tahun, Double Blind Review menjadi sistem yang paling banyak digunakan oleh berbagai jurnal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Open Peer Review mulai mendapat perhatian karena dianggap mampu meningkatkan transparansi dalam proses penilaian ilmiah.
Perubahan ini memunculkan pertanyaan: apakah Open Peer Review benar-benar mulai menggantikan Double Blind Review, atau keduanya justru memiliki fungsi yang berbeda?
Mengapa Sistem Peer Review Menjadi Faktor Penting?
Tidak semua jurnal menerapkan proses review dengan standar yang sama. Kualitas mekanisme penilaian sering menjadi salah satu indikator apakah sebuah jurnal menjalankan proses editorial secara kredibel (link ke artikel Jurnal Predator).
Karena itu, memahami sistem peer review juga membantu peneliti mengenali praktik publikasi yang sehat sekaligus menghindari proses evaluasi yang hanya formalitas.
Double Blind Review Masih Menjadi Standar di Banyak Jurnal
Dalam Double Blind Review, identitas penulis dan reviewer sama-sama disembunyikan selama proses evaluasi.
Tujuan utamanya adalah mengurangi potensi bias yang dapat muncul karena nama penulis, afiliasi institusi, atau reputasi akademik tertentu. Dengan demikian, reviewer diharapkan memberikan penilaian berdasarkan kualitas naskah, bukan identitas penulisnya.
Beberapa keunggulan Double Blind Review antara lain:
- Mengurangi bias terhadap institusi atau penulis tertentu,
- Memberikan ruang yang lebih adil bagi peneliti baru,
- Menjaga independensi proses evaluasi.
Meskipun demikian, sistem ini tidak sepenuhnya menghilangkan bias. Pada bidang penelitian yang sangat spesifik, reviewer terkadang masih dapat menebak identitas penulis melalui topik penelitian atau daftar referensi yang digunakan.
Open Peer Review Mendorong Transparansi yang Lebih Besar
Berbeda dengan Double Blind Review, Open Peer Review menghilangkan sebagian atau seluruh unsur anonimitas dalam proses penilaian.
Penerapannya dapat berbeda pada setiap jurnal, misalnya:
- Identitas reviewer diketahui penulis,
- Identitas penulis dan reviewer sama-sama terbuka,
- Laporan review dipublikasikan bersama artikel,
- Diskusi antara penulis dan reviewer dapat diakses pembaca.
Pendekatan ini bertujuan meningkatkan akuntabilitas reviewer sekaligus membuat proses editorial lebih transparan.
Beberapa publisher besar seperti F1000Research, eLife, dan BMJ telah menerapkan variasi Open Peer Review, sementara sejumlah jurnal dari Springer Nature juga menyediakan opsi publikasi laporan review.
Meskipun sama-sama bertujuan menjaga kualitas publikasi, kedua sistem memiliki pendekatan yang berbeda. Pilihan sistem tidak selalu menunjukkan bahwa satu metode lebih baik daripada yang lain. Banyak jurnal menyesuaikannya dengan karakter disiplin ilmu, budaya akademik, dan kebijakan editorial masing-masing.
Tren Penggunaan Open Peer Review di Dunia Publikasi
Dalam beberapa tahun terakhir, Open Peer Review semakin banyak dibahas sebagai bagian dari gerakan open science yang mendorong transparansi penelitian.
Namun, tren tersebut belum berarti Double Blind Review ditinggalkan. Sebaliknya, banyak jurnal masih mempertahankan sistem anonim karena dinilai lebih sesuai untuk bidang ilmu tertentu, terutama ketika potensi bias identitas dianggap cukup tinggi.
Yang mulai terlihat adalah munculnya model hibrida, yaitu jurnal yang tetap menggunakan proses anonim tetapi memberikan pilihan untuk mempublikasikan laporan review setelah artikel diterima.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa inovasi dalam peer review lebih mengarah pada peningkatan transparansi tanpa harus sepenuhnya menggantikan sistem yang sudah lama digunakan.
Apa yang Perlu Diperhatikan Penulis Sebelum Submit?
Sebelum mengirim manuskrip, penulis sebaiknya memahami sistem review yang diterapkan oleh jurnal tujuan, termasuk bagaimana identitas penulis diperlakukan selama proses evaluasi.
Beberapa hal yang perlu diperiksa antara lain:
- Jenis peer review yang digunakan,
- Apakah identitas reviewer akan dibuka,
- Kemungkinan publikasi laporan review,
- Kebijakan revisi selama proses editorial.
Informasi tersebut biasanya tersedia pada halaman Author Guidelines atau Editorial Policies di website jurnal.
Open Peer Review semakin berkembang sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dalam publikasi ilmiah, sementara Double Blind Review masih menjadi pilihan utama bagi banyak jurnal karena dinilai mampu meminimalkan bias pada tahap evaluasi.
Alih-alih saling menggantikan, kedua sistem saat ini lebih banyak berkembang sesuai kebutuhan masing-masing disiplin ilmu dan kebijakan penerbit. Bagi penulis, memahami mekanisme review sejak awal menjadi langkah penting agar proses submit berjalan sesuai dengan ekspektasi jurnal tujuan.
